Kamis, 02 Juli 2015

Softskill Kesehatan Mental




PENGARUH CHILD ABUSE TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK




DWI LISTI RAMADHANI
2PA08
12513678

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA




      
                                                          BAB  I                                                                      
                                                PENDAHULUAN
                                                                                                                 

A.Latar Belakang         

          Kedudukan anak dalam rumah tangga sebenarnya dalam posisi lebih lemah, lebih rendah karena secara fisik, mereka memang lebih lemah dari pada orang dewasa dan masih bergantung pada orang-orang dewasa di sekitarnya. Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak, tempat dimana anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pendidikan dalam keluarga sangat menentukan sikap seseorang, karena orangtua menjadi basis nilai bagi anak. Pola asuh, peran dan tanggung jawab yang dijalankan oleh orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak bukan merupakan pekerjaan yang mudah, dimana kadang kala orang tua mengalami hambatan. Hambatan-hambatan tersebut berujung pada perlakuan yang salah kepada anak.

Kasus-kasus perlakuan salah yang menimpa anak-anak yang seringkali terjadi adalah kekerasan pada anak ( child abuse ). Kekerasan yang menimpa anak-anak, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tingginya kekerasan pada anak memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan menjadi persoalan yang amat serius, parahnya lagi kekerasan tersebut dilakukan oleh orang tua sendiri. Dimana orangtua seharusnya menjadi panutan atau contoh bagi anaknya, membimbing anaknya dengan baik serta bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial.

Dari tahun ke tahun kekerasan pada anak ( child abuse ) selalu terjadi, pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah pertama, munculnya kekerasan dalam rumah tangga, terjadinya kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua. Kedua, terjadinya disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Ketiga, faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi.

Tindak kekerasan terhadap anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Dan merupakan perbuatan yang tidak mempunyai perasaan apalagi melakukan kekerasan terhadap anak kandung sendiri. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga dan harus kita bina menjadi anak yang baik, bukan dengan melakukan kekerasan ( child abuse ) terhadap anak.

Faktor lain yang sering disalah gunakan oleh para Pendidik khususnya orang tua yaitu sebagai penerapan kedisiplinan anak. Padahal melakukan kekerasan terhadap anak sebagai pendisiplinan anak adalah salah besar karena anak nantinya bisa mengalami trauma dan mengalami gangguan mental maupun fisik, perkembangan emosional, dan perkembangan anak secara umum. Hal ini yang seringkali tidak diperhatikan oleh orang tua terhadap dampak jangka panjangnya. Anak yang sering mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya akan sangat berbahaya bagi tumbuh kembang sang anak. Termasuk perkembangan kognitifnya, anak bisa mengalami keterlambatan dalam hal berbicara, menulis, berkarya, bersosialisasi terhadap lingkungannya, dll. Semua itu akan berdampak negatif sampai anak itu dewasa.

Kekerasan terhadap anak ( child abuse ) ini harus cepat mendapat perhatian dan para orang tua harus mendapat pendidikan khusus bagaimana merawat anak sedini mungkin dengan baik tanpa harus melakukan kekerasan. Agar tidak terjadi lagi kasus child abuse ini yang menimpa anak-anak diluar sana.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

I .    CHILD ABUSE

Child abuse atau perlakuan yang salah terhadap anak didefinisikan sebagai segala perlakuan buruk terhadap anak oleh orang tua, wali, atau orang lain yang seharusnya memelihara, menjaga, dan merawat mereka.

Child abuse juga didefinisikan sebagai suatu kelalaian tindakan atau perbuatan orangtua atau orang yang merawat anak yang mengakibatkan anak menjadi terganggu mental maupun fisik, perkembangan emosional, dan perkembangan anak secara umum. Child Abuse dapat berupa tindakan kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Kekerasan fisik adalah agresi fisik diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa. Hal ini dapat melibatkan meninju, memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar, membuat memar, menarik telinga atau rambut, menusuk, membuat tersedak atau menguncang seorang anak. Disini Terdapat beberapa faktor penyebab Child Abuse. Salah-satu penyebab kekerasan terhadap anak adalah karena pengaruh keluarga, pengaruh ekonomi, maupun karena pengaruh genetika.

Menurut Buss (dalam Morgan, 1989), perilaku agresi adalah suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam atau membahayakan individu individu atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut baik (secara fisik atau verbal) dan langsung atau tidak langsung. Menurut Atkinson (1999), perilaku agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak harta benda.  Menurut Goble (1987) agresi adalah suatu reaksi terhadapfrustrasi atau ketidakmampuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasar dan bukan naluri.

Baron dan Bryne (2000) mendefinisikan perilaku agresi sebagai suatu bentuk perilaku yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya perilaku tersebut. Berdasarkan definisi tersebut didapat empat pengertian mengenai agresi, pertama adalah agresi merupakan suatu bentuk perilaku bukan emosi, kebutuhan atau motif kedua adalah si pelaku agresi mempunyai maksud untuk mencelakakan korban yang dituju, ketiga adalah korban agresi yaitu makhluk hidup bukan benda mati, sedangkan yang keempat adalah korban dari perilaku agresi ini tidak menginginkan atau menghindarkan diri dari perilaku pelaku agresi.

Jadi, dari pengertian teori agresi diatas dapat dihubungkan dengan orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya, walaupun anak tersebut tidak bisa menghindarkan diri dari perlakuan kasar  orang tuanya. Dan bentuk agresi ini adalah Fisik, aktif, langsung maksudnya adalah dengan Menikam, memukul, atau melakukan kekerasan secara langsung terhadap orang lain.

 

Menurut Gelles Richard.J (1982) mengemukakan bahwa Child Abuse (kekerasan terhadap anak) terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor, yaitu:

a.         Pewarisan Kekerasan Antar Generasi (intergenerational transmission of violence).

Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orang tuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka melakuakan tindakan kekerasan kepada anaknya. Dengan demikian, perilaku kekerasan diwarisi  dari generasi ke generasi. Studi studi menunjukkan bahwa lebih kurang 30% anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan menjadi orang tua yang bertindak keras kepada anak anaknya.

Sementara itu, hanya 2 sampai 3 persen dari semua individu menjadi orang tua yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami perlakuan salah dan kekerasan mungkin menerima perilaku ini sebagai model perilaku mereka sendiri sebagai orang tua. Tetapi, sebagian besar anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya.

 

b.         Stres Sosial (social stress)

Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup: pengangguran (unemployment), penyakit (illness), kondisi perumahan buruk (poor housing conditions), ukuran keluarga besar dari rata-rata (a larger than average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a new baby), orang cacat (disabled person) di rumah, dan kematian (the death) seorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindakan kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan.

Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga kelas menengah dan kaya, tetapi tindakan yang dilaporkan lebih banyak di antara keluarga miskin karena beberapa alasan.             

c.         Isolasi Sosial dan Keterlibatan Masyarakat Bawah

Orang tua dan pengganti orang tua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orang tua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat.

 

d.         Struktur Keluarga

Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki risiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya, orang tua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan dengan orang tua utuh. Selain itu, keluarga keluarga di mana baik suami atau istri mendominasi di dalam membuat keputusan penting, seperti : di mana bertempat tinggal, pekerjaan apa yang mau diambil, bilamana mempunyai anak, dan beberapa keputusan lainnya, mempunyai tingkat kekerasan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga keluarga yang suami istri sama sama bertanggung jawab atas keputusan keputusan tersebut.

 

e.           Kondisi anak

Anak yang mengalami cacat baik mental maupun fisik anak yang sulit diatur sikapnya, anak yang meminta permintaan khusus, ataupun berposisi sebagai anak tiri, anak angkat.

 

f.           Sosial

Nilai/Norma yang ada dimasyarakat yang kurang menguntungkan terhadap anak, misalnya dalam praktek pengasuhan anak, pembiasaan bekerja sejak kecil kepada anak yang berlindung atas nama adat budaya, misalnya dalam pola pengasuhan anak yang menekankan dan menjunjung tinggi nilai kepatuhan yang acap kali masyarakat membiarkan dan mentolerir kekerasan fisik (cambuk, pukul, tending dan tempeleng), verbal (berkata-kata kotor, mengumpat, damprat atau cemooh) maupun kekerasan dalam pengisolasian sosial. 

 

g.          Persepsi masyarakat

Masyarakat menilai bahwa persoalan kekerasan terhadap anak yang dilakukan keluarganya sendiri (orang tua) adalah urusan intern mereka sendiri. Mereka melakukan itu dalam rangka mendidik anak- anaknya yang bandel dan membangkang orang tua dan adanya anggapan bahwa anak adalah milik orang tuanya sendiri.

 

h.        Kondisi orang tua

Orang tua yang mengunakan alkohol, orang tua yang mengalami depresi atau gangguan mental, dan orang tua yang dulu dibesarkan dengan kekerasan cenderung meneruskan pendidikan tersebut kepada anaknya.

 

 I.     Faktor keluarga

Keluarga yang cenderung berada dalam keadaan yang kacau secara ekonomi dan lingkungan seperti, perceraian, pengangguran dan keadaan ekonomi kacau. Karena adanya tekanan ekonomi bagi orang tua yang tidak kuat untuk menghadapi akan menjadikannya semakin sensitif sehingga menjadi mudah marah, anak sebagai pihak yang terlemah dalam keluarga menjadi sasaran kemarahan. 

 

J.      Persepsi orang tua

Munculnya anggapan yang salah terhadap anak (wrong perception). Orang tua menganggap kehadiran anak sebagai hak paten yang dapat digunakan sesukanya sehingga pada akhirnya orang tua akan merasa bebas dalam memperlakukan anaknya sesuai dengan keinginannya, apapun yang dilakukan orang tua terhadap anak adalah hak orang tua. 

 

II. Dampak Child Abuse terhadap Perkembangan Kognitif Anak

 

Teori Piaget disebut teori kognitif karena pembahasannya mengenai masalah kognisi. Pengertiannya kognisi tidak hanya meliputi kemampuan berpikir saja, melainkan termasuk aspek-aspek: persespsi, ingatan, berfikir, symbol, penalaran dan pemecahan masalah (Singgih D. Gunarsa, 1981).

Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian.

Dampak dari kekerasan orang tua dapat menimbulkan trauma yang mendalam pada anak dan berakibat fatal terhadap terhambatnya perkembangan kognitif anak .  Speech delay adalah gangguan kognitif anak berupa keterlambatan bicara dan kesulitan yang dihadapi anak sehubungan dengan produksi kata-kata dan bahasa. Motoric delay adalah keterlambatan perkembangan anak sehubungan dengan kemampuan motoriknya. Jadi, otot-otot pada anak sulit untuk digerakkan. Gerakannya akan menjadi lambat, aktivitasnya juga terganggu dan paling parah adalah anak tak dapat berjalan.

Kemudian cerebral palsy adalah gangguan ketika otot-otot pada tubuh anak tidak mau mendengarkan perintah dari otaknya. Down syndrome adalah keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak. Terakhir adalah global developmental delay merupakan kondisi anak yang memiliki gangguan perkembangan baik itu motorik, kognitif, dan emosional.

Akibat pada tumbuh kembang anak Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu:            

 a. Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapat perlakuan salah

b. Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan

 

Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan kosnep diri yang positif, atau bermusuh dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan sosialdengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.

Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, sedang yang lainnya menjadi menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol, hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, tempretantrum, dsb. Dan dampak dari kekerasaan seperti ini yaitu anak jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri.

Bentuk kekerasan secara mental juga sering tidak terlihat, namun dampaknya bisa lebih besar dari kekerasan secara verbal. Kekerasaan seperti ini meliputi pengabaian orang tua terhadap anak yang membutuhkan perhatian, teror, celaan, maupun sering membanding-bandingkan hal-hal dalam diri anak tersebut dengan yang lain, bisa menyebabkan mentalnya menjadi lemah. Dampak kekerasan seperti ini yaitu anak merasa cemas, menjadi pendiam, belajar rendah diri, hanya bisa iri tanpa mampu untuk bangkit.

 

III.           Upaya Pencegahan atau solusi

 

Agar anak terhindar dari bentuk kekerasan seperti diatas perlu adanya pengawasan dari orang tua, dan perlu diadakannya langkah-langkah sebagai berikut:

- orang tua menjaga agar anak-anak tidak menonton / meniru adegan kekerasan karena bisa menimbulkan bahaya pada diri mereka. Beri penjelasan pada anak bahwa adegan tertentu bisa membahayakan dirinya. Luangkanlah waktu menemani anak menonton agar para orang tua tahu tontonan tersebut buruk atau tidak untuk anak.

 

- Jangan sering mengabaikan anak, karena sebagian dari terjadinya kekerasan terhadap anak adalah kurangnya perhatian terhadap anak. Namun hal ini berbeda dengan memanjakan anak.

 

- Tanamkan sejak dini pendidikan agama pada anak. Agama mengajarkan moral pada anak agar berbuat baik, hal ini dimaksudkan agar anak tersebut tidak menjadi pelaku kekerasn itu sendiri.

 

- Sesekali bicaralah secara terbuka pada anak dan berikan dorongan pada anak agar bicara apa adanya/berterus terang. Hal ini dimaksudkan agar orang tua bisa mengenal anaknya dengan baik dan memberikan nasihat apa yang perlu dilakukan terhadp anak, karena banyak sekali kekerasan pada anak terutama pelecehan seksual yang terlambat diungkap.

 

- Ajarkan kepada anak untuk bersikap waspada seperti jangan terima ajakan orang yang kurang dikenal dan lain-lain.

 

- Sebaiknya orang tua juga bersikap sabar terhadap anak. Ingatlah bahwa seorang anak tetaplah seorang anak yang masih perlu banyak belajar tentang kehidupan dan karena kurangnya kesabaran orang tua banyak kasus orang tua yang menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri.

 

 

  -  Prevensi primer-tujuan:

promosi orangtua dan keluarga sejahtera Individu  , Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat , Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik , Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga.

 

  -  Mengurangi media yang berisi kekerasan , Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat, seperti: pelayanan krisis, tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya , Kontrol pemegang senjata api dan tajam , Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban child abuse dan Konseling profesional pada Keluarga dapat berupa edukasi orangtua dalam pola asuh anak.

 

 

 

IV.           ANALISIS

 

Child abuse atau perlakuan yang salah terhadap anak didefinisikan sebagai segala perlakuan buruk terhadap anak oleh orang tua, wali, atau orang lain yang seharusnya memelihara, menjaga, dan merawat mereka. Dalam teori kekerasan James Gilligan, ia berpendapat bahwa kekerasan merupakan lingkaran tragedi yang meliputi korban kekerasan dan juga pelaku/pencipta korban kekerasan, karena aksi manusia bersifat relasional baik dalam keluarga, sosial dan institusional. Kekerasan sulit untuk dicegah karena seringkali kekerasan yang terjadi, contohnya dalam keluarga telah menjadi bagian dari makrokosmos, budaya dan sejarah kekerasan itu sendiri. Tragedi yang dimaksud oleh Gilligan adalah para pelaku menderita kesedihan dan kesengsaraan lahir batin yang luar biasa hingga bisa menyebabkan kematian.

menurut St. Sunardi, kekerasan telah membudaya. Kekerasan tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik manusia karena senjata tetapi telah masuk pada cara seseorang memandang orang lain, cara mendidik anak dan cara orang mengatasi konflik. Kekerasan telah menjadi ciptaan manusia dan cara hidup manusia. Dua teori kekerasan di atas memperlihatkan bahwa kekerasan menjadi sangat sulit untuk dipisahkan dari kehidupan manusia bahkan dari manusia itu sendiri, karena kekerasan telah menjadi sifat manusia, telah menjadi pilihan hidup seseorang dalam menyelesaikan masalah.

Dari analisa teori diatas dapat  diambil  contoh  kasus  yaitu “ Ayah  Cabuli  Anak Kandung Setiap Hari”. Polres Jakarta Barat membekuk pria berinisial DH (32) dari rumah kontrakannya di kawasan   Palmerah,  Jakarta  Barat.   DH   dicokok   lantaran   ulah  bejatnya   mencabuli anak kandungnya berinisial  T (14th)                                        

            Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat AKBP Putu  Putera  Sadana mengatakan, DH     telah satu terakhir ini mencabuli  anak  kandungnya  tersebut.  "Korban  diancam  akan  dibunuh    dan dipukul.  Karena  takut ,  korban  tak  berdaya, " kata Putu,  di Polres Metro Jakarta Barat, Kamis (18/6/2015). Putu melanjutkan, pencabulan yang dilakukan DH ini sebenarnya telah diketahui oleh ibu HR (30) istri pelaku sekaligus ibu dari korban. Saat itu,  T melaporkan kasus ini ke wali kelasnya saat masih duduk di bangkus kelas VI salah satu SD.

            HR yang  mengetahui  kejadian  ini  pun  marah  dan  memilih  pisah ranjang dengan DH. Namun, DH sepertinya tidak mempedulikan dan kembali mengulangi perbuatannya mencabuli T hingga akhirnya dibekuk polisi. Atas  perbuatannya, DH  terancam  melakukan pelanggaran Pasal 81 UU RI No. 35 tahun 2014  tentang Perlindungan  Anak  dengan ancaman hukuman 15 tahun masa kurungan. "Namun karena korbanya anak kandung, kuat kemungkinan hukuman bertambah dengan 2/3 hasil putusan pengadilan," tambah Putu.

 

 

 


 

 

Sumber : http://metro.sindonews.com/read/1014202/170/edan-ayah-cabuli-anak-kandung-setiap-hari-1434622319

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Ada berbagai penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak salah-satunya adalah karena pengaruh keluarga, pengaruh ekonomi, maupun karena pengaruh genetika. Kekerasan yang dialami oleh anak akan berdampak pada perkembangan kognitifnya, perilakunya,dll. Dan seharusnya orang tua tidak perlu melakukan kekerasan terhadap anaknya bila ingin mendidiknya supaya menjadi anak yang disiplin atau semacamnya. Karena akan berdampak sangat buruk bila anak sudah besar nanti. Maka dari itu orang tua harus mendidik anak dengan cara yang benar bukan dengan cara kekerasan fisik.

3.2 SARAN

Kekerasan memang tidak dapat ditolerir, apalagi terhadap anak. Menyarankan agar orangtua bahkan semua orang 'bergerak' bila mengetahui anak mengalami kekerasan. Tidak perlu ragu meski pelaku kekerasan datang dari kerabat atau pasangan Anda sendiri. Sebab bila ada seseorang yang mengetaui ada anak mendapat kekerasan, namun tidak ada tindakan akan terancam tahanan 5 tahun penjara sesuai pasal 78 Tahun 2002. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kekerasan pada anak & di rumah tangga. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan kesehatan sekitar child abuse & mengidentifikasi resiko terjadinya child abuse.Berpikir untuk bertindak menyudahi kekerasan ini merupakan langkah yang bagus untuk masa depan anak.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pratiwi Arna, Antarini. 2005. Kekerasan terhadap anak di mata anak Indonesia. Universitas Michigan : Yayasan Pemantau Hak Anak.             

http://id.scribd.com/doc/39800308/Child-Abuse-pada-anak 

http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse 

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/05/140506_kekerasan_anak.shtml

http://herdianaheri.blogspot.com/2012/05/kekerasan-orang-tua-terhadap-anak.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_terhadap_anak

http://yosephineyohana.blogspot.com/2013/09/penyebab-kekerasan-terhadap-anak.html

http://www.smallcrab.com/anak-anak/550-beberapa-jenis-kekerasan-pada-anak

http://www.artikelkesehatan99.com/teriakan-orang-tua-berpengaruh-buruk-pada-mental-anak/

https://www.facebook.com/NutrisiTumbuhKembangAnak/posts/218433828315924

 

 

Kamis, 08 Januari 2015

PSIKOTERAPI

PSIKO KLINIS DALAM INTERNET

Di zaman sekarang kita telah mengenal internet. Perkembangan internet juga sangat pesat dan sangat di dukung dalam penyebarannya. Tak jarang kini semua orang mengenal apa itu internet bahkan banyak orang sudah bisa mengoperasikannya dan membuat hal-hal yang mendukung internet tersebut. Namun, tidak semua orang tahu mengenai Psikoterapi: Psikologi Klinis dalam internet. Maka dari itu, tugas ini saya buat supaya orang-orang tahu apa itu Psikoterapi: Psikologi Klinis dalam internet serta bentuk aplikasinya dan kelebihan dan keterbatasannya.

Psikologi Klinis adalah salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi Pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lain. Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep Psikologi Abnormal, Psikologi Perkembangan, Psikopatologi dan Psikologi Kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam assesment dan intervensi, untuk dapat memahami maslah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku anormal.

Semakin pesat perkembangan teknologi, semakin banyak pula orang yang menggunakannya dengan berbargai tujuan, selain untuk berbisnis, mencari teman, mencari informasi, saat ini internet juga digunakan untuk melakukan psikoterapi oleh para psikolog.
Sebelum ada fenomena psikoterapi online ini, kita telah bisa menikmati psikotes online. tes-tes psikologi yang di lakukan secara virtual. dan semakin berkembang pesatnya teknologi,  akhirnya para psikolog mencoba psikoterapi secara online   

            Dalam dunia akademisi, kita melihat peningkatan minat bersama dengan penelitian di bidang psikoterapi online. Salah satu sumber yang menarik datang dari seorang psikolog bernama John Suler, Ph.D. Rider University. Dalam artikelnya tentang “Masa Depan Psikoterapi Online dan Kerja Klinis” diterbitkan dalam Journal of Applied Studi psikoanalitik pada tahun 2001, ia memprediksi akan adanaya spesialis psikoterapi online untuk setiap jenis model klinis onlinedanformat                                                                  
                                                                  
            Pembahasannya juga menawarkan model yang baik untuk memahami perkembangan konseling online untuk saat ini. Dr Suler dimulai dengan diskusi tentang psikoterapi online yang memanfaatkan email sebagai modus utama interaksi. Dia akhirnya membawa kita ke tahap berikutnya dalam pengembangan psikoterapi online, yang menggunakan model yang lebih sinkron (Suatu jenis komunikasi dua arah dengan hampir tidak ada penundaan waktu, yang memungkinkan peserta untuk merespon secara real time) seperti terapi chatting mana ada real time interaksi berbasis teks antara klien dan terapis. 

Akhirnya, ia berbicara tentang terapi saat ini online menggunakan format video berbasis sinkron dimana klien dan terapis bicara dan melihat satu sama lain secara real time melalui Internet.
Praktisi lebih banyak mengambil mode ini pelayanan serius meskipun beberapa keterbatasan yang ada. Jika kita melihat fenomena ini dari sudut pandang kesempatan kita melihat bahwa akan ada permintaan di luar batas wilayah bagi dokter yang merek sendiri secara efektif dan membangun tingkat kredibilitas tertentu di lapangan. Hal ini tidak sulit untuk membayangkan skenario individu yang menderita masalah psikologis tertentu dan / atau unik. 

Orang ini memilih untuk penelitian masalah yang dirasakan / gejala di Internet dan menemukan seorang ahli dalam subjek bahwa dia / dia memilih untuk mencari layanan dari terlepas dari lokasi profesional. Seorang praktisi yang telah dipasarkan sendiri / dirinya sendiri secara efektif dan telah memanfaatkan teknologi saat ini untuk menawarkan sesuatu yang berharga kepada orang lain di luar tradisional tatap muka psikoterapi akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar itu. 

Psikoterapi online ini bermanfaat untuk mereka yang ragu-ragu atau malu untuk berkonsultasi dengan tatap muka. Selain itu hal ini bisa merupakan langkah awal menuju pertemuan dengan terapis dan mungkin bisa membuat orang merasa lebih nyaman dalam menerima bantuan jika harus bertemu langsung (bertatap muka)           
Melalui psikoterapi online ini juga bisa membantu mereka yang mungkin sulit untuk dijangkau secara langsung oleh para terapis, seperti mereka yang tinggal di daerah terpencil dimana jarak dan medan yang sulit dilalui.

            Psikoterapi itu sendiri di Indonesia lebih hanya kepada Test secara Kasat mata, karena si Psikolog yang memeriksa tidak bertemu secara langsung. Ada beberapa Kelebihan maupun Keterbatasan dalam melakukan Psikoterapi secara Online, seperti sebagai berikut :

- Kelebihan dari psikoterapi online  :
a. Menghemat waktu, karena klien tidak perlu Repot-repot untuk datang ke tempat Psikoterapis              

b. Lebih Hemat dan Murah, biasanya Psikoterapi yang di Lakukan secara Online memiliki Cost    harga yang lebih murah ketimbang Datang langsung ke Tempat Terapis, bahkan ada Psikoterapis yang tidak di pungut biaya alias Gratis                           
                                                                      
c. Cocok untuk Orang yang Memiliki Kepribadian Tertutup alias Pemalu, biasanya orang Pemalu akan lebih terbuka dan Berani jika Terapis di lakukan jarak jauh ketimbang Bertatap Muka langsung

- Keterbatasan dari psikoterapi online :
a. Sang Terapis, dalam hal ini sang Psikolog, tidak mengetahui bagaimana keadaan klien sesungguhnya itu seperti apa.        
                                                                                                                     
b. Terapis tidak bisa mengetahui bagaimana Bahasa Tubuh si Klien, tatapan mata klien, dan cara bicara si klien, seperti kita tahu bahwa bahasa tubuh, tatapan mata, dan cara bicara merupakan entry point bagi seorang Psikolog untuk bisa mengetahui Kepribadian, karakteristik, dan bahkan Permasalahan yang sedang di alami Sang Klien


Minggu, 23 November 2014

TES PSIKOLOGI ONLINE


Anne Anastasi (1976) mengatakan bahwa tes pada dasarnya adalah suatu pengukuran yang obyektif dan standar terhadap sampel perilaku. Brown (1976) mengatakan bahwa tes adalah suatu prosedur yang sistematis guna mengukur sample perilaku seseorang. Namun Brown menganggap bahwa ciri sistematis tersebut telah mencakup pengertian obyektif, standar, dan syarat-syarat kualitas lainnya.

Definisi yang lebih lengkap dapat dikutipkan langsung dari pendapat Cronbach yang dikemukakan dalam bukunya Essentials of psychological Testing, yaitu: “….a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or a category system” (Cronbach, 1970). 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Psikotes adalah prosedur pemeriksaan yang telah mengalami pembakuan, yang dimaksudkan untuk menyelidiki dan menetapkan sifat-sifat psikis khusus individu; pengujian mental. 

Psikotes adalah tes yang dilakukan untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes ini dapat berbentuk tertulis, proyektif, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi atau kemampuan kognitif dan emosional seseorang. Tujuan dari dilaksanakannya tes ini adalah untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan orang secara mental dan faktor-faktor yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, dan intelegensi. Jadi, psikotes adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui gambaran seseorang mulai dari kemampuan kognitifnya, kondisi emosinya, kecenderungan-kecenderungan sikap dan hal-hal yang mempengaruhi kecenderungan tersebut. Dalam psikotes, kemampuan yang diukur tidak melulu terkait dengan IQ seseorang. Selain tes IQ ada juga tes kepribadian, dan wawancara. Dari integrasi tes-tes tersebut, maka akan diperoleh gambaran mengenai orang yang di tes yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.  

● Kelebihan Tes Psikologi Online :

-          Mengetahui potensi-potensi diri yang ada pada diri anda dan mengoptimalkannya untuk kesuksesan anda dalam karir dan kehidupan

-          Menyadarkan diri sendiri bahwa anda masih memiliki banyak kekurangan sehingga  pantang untuk bersikap sombong dan merendahkan orang lain.

-          Dapat mengetahui jenis pekerjaan apa yang paling cocok dengan kepribadian karakter anda, sehingga anda melakukan pekerjaan tersebut dengan bahagia. Bahagia karena pekerjaan tersebut cocok untuk anda. Dan bahagia karena mendapatkan imbalan sepadan terhadap apa yang anda kerjakan dengan sepenuh hati.

-          Dapat menempatkan diri dalam menjalin relasi dengan orang lain sehingga dapat membantu kesuksesan anda

-          Mengenal diri sendiri dapat membantu anda untuk berkompromi dengan diri sendiri dan orang lain dalam berbagai situasi.

-          Mengenal kepribadian (personality) diri dapat membantu anda menerima dengan ihlas segala kelebihan dan kekurangan diri sendiri, sekaligus menerima dan bertoleransi terhadap kelebihan dan kelemahan orang lain (suami/isteri, anak, rekan kerja, atasan, kakak, adik, atau siapapun juga).

● Kekurangan Tes Psikologi Online :
      -     Tidak bersifat tertutup karena, hasil dari tes dapat dilihat oleh orang lain.

-          Belum tentu akurat karena tes tidak dilakukan dengan seorang psikolog.

-          Bisa diperbaiki berkali kali jika ada soal yang menyulitkan dan dipelajari oleh orang yang melakukan tes  dengan demikian orang tersebut dapat semakin mengerti dengan tes itu karena belajar bukan spontanitas.

CSCW (COMPUTER SUPPORTED COOPERATIVE WORK)

CSCW (Computer Supported Cooperative Work) adalah penggunaan komputer dan software untuk melaksanakan pekerjaan secara bersama dalam sebuah group di mana setiap anggota group menyadari kehadiran anggota lain pada group.Computer-supported cooperative work (CSCW) merupakan suatu group user yaitu bagaimana cara merancang suatu system yang digunakan untuk membantu pekerjaan sebagai suatu group dan bagaimana memahami dampak dari suatu teknologi pada pola pekerjaan mereka. HCI berasal dari ilmu psychology-computing sedangkan CSCW bersumbu pada sociology-computing. CSCW merupakan suatu system komputer yang mendukung pekerjaan sebagai suatu group yang dikenal dengan istilah groupware.
SISTEM GROUPWARE
       Groupware dapat diklasifikasi dalam beberapa cara, salah satunya adalah dimana dan kapan seseorang peserta mengikuti kerja kelompok. Hal ini dapat diringkas dalam matriks time/space. Dimensi space dapat juga suatu dimensi secara geografis dan dibagi dalam co-located (tempat yang sama) dan remote (tempat yang berbeda). Contoh e-mail dan video conferencing yang bekerja pada jarak yang jauh. Sumbu time dibagi menjadi system synchronous dan asynchronous. Contoh telepon merupakan komunikasi remote synchronous dan post-it notes merupakan suatu asynchronous co-located.
Gambar di bawah ini menunjukkan suatu cooperative work yang mendukung pembahasan
·         Computer-mediated communication Mendukung komunikasi antar partisipan
·         Meeting and decision support systems Menangkap pemahaman secara umum.
·         Shared application and artifacts Mendukung interaksi partisipan dengan berbagi pekerjaan.

Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka.
Pada kesempatan yang sama pada tahun 1987, Dr. Charles Findley mempresentasikan konsep collaborative learning-work. Menurut , CSCW mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware, namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial. Definisi yang diajukan mempertegas perbedaan di antara dua konsep ini :
“ CSCW adalah sebuah istilah generik, yang menggabungkan pengertian bagaimana orang bekerja dalam sebuah kelompok dengan teknologi pendukung berupa jaringan komputer, Perangkat keras, Perangkat lunak terkait, layanan, dan teknik.
Salah satu bentuk umum konseptualisasi sistem CSCW adalah dengan mengamati konteks dari penggunaan sistem tersebut. Contohnya adalah matriks CSCW, yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1988 oleh Johansen; dan juga muncul pada [4]. Matriks dimaksud membagi konteks sebuah “work” ke dalam dua dimensi yakni waktu dan lokasi. Dimensi waktu dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada waktu yang bersamaan (sinkron), atau berbeda (asinkron). Dimensi lokasi dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada tempat yang sama, atau tempat yang terdistribusi.
telah dilakukan studi terhadap kemungkinan penggunaan CORBA sebagai kanal komunikasi untuk membangun aplikasi CSCW. Dengan menggunakan CORBA, persoalan komunikasi dapat ditangani dengan lebih mudah sehingga pengembang CSCW dapat lebih memfokuskan diri pada level aplikasi.FraCollA, sebuah framework berbasis CORBA, telah dirancang untuk mendukung pembangunan CSCW. Rancangan tersebut dituangkan dalam bentu spesifikasi, arsitektur sistem, diagram kelas, dan diagram kolaborasi. Fungsi-fungsi dasar aplikasi Messenger dan Shared Document Editor telah diimplementasikan untuk menguji framework. Hasil implementasi menunjukkan bahwa aplikasi dapat memanfaatkan CORBA sebagai middleware untuk menangani persoalan komunikasi, khususnya untuk membangun fungsi pengelolaan user/group, memelihara group awareness, dan menangani pertukaran pesan dan shared workspace. FraCollA dapat dimanfaatkan sebagai landasan untuk pengembangan framework dan aplikasi CSCW yang lebih lengkap.
FraCollA dikembangkan dengan menggunakan Java Development Kit (JDK) 1.3 dan Visibroker for Java 4.5, dan beroperasi di lingkunan sistem operasi MS Windows 98. Karena dimplementasikan dengan menggunakan Java dan CORBA, FraCo11A dapat beroperasi di lingkungan sistem operasi lain.
CSCW memiliki tujuan yaitu :
@ Mempelajari bagaimana orang bekerja sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi
@ Mendukung proses pelaksanaan pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan
Contoh yang digunakan pada CSCW adalah
• Kaloborasi para Ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek
• Pengarang mengedit suatu dokumen bersama-sama
• Programmer suatu sistem secara bersamaan
• Bekerja sama sebagai sharing atas suatu video bersama yang conferencing aplikasi
• Para pembeli dan para penjual melakukan transaksi secara eBay
CSCW seringkali diasumsikan sebagai aspek yang dihasilkan dari sebuah groupware. CSCW lebih berorientasi kepada evaluasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam proses interaksi antar manusia dalam sekelompok pengguna. Interaksi tersebut antara lain:
A. komunikasi yang normal antar manusia
1. Komunikasi face-to-face
2. Percakapan
B. komunikasi berbasis teks
Komunikasi Face To Face
Pada komunikasi face to face Tidak hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga menggunakan bahasa tubuh dan tatapan mata.
• Personal Space
• Kontak dan tatapan mata
• Gerak isyarat dan bahasa tubuh
• Back channel
• Turn-taking
Percakapan
Terdapat dua prinsip ucapan antara lain:
• relevan artinya bahwa suatu ucapan harus sesuai dengan topik tertentu
• helpful artinya suatu ucapan harus dapat dimengerti oleh pendengar dan tidak ada ambigu dari pemahaman pendengar
Komunikasi Berbasis Teks
Ada 4 tipe komunikasi tekstual dalam groupware:
• discrete; pesan langsung seperti dalam email
• linear; pesan partisipan ditambahkan pada akhir dari catatan tunggal
• non-linear; saat pesan dihubungkan ke yang lainnya dalam model hypertext
• spatial; dimana pesan diatur dalam permukaan dua dimensi
Kerja Kelompok
Perilaku kelompok lebih kompleks terutama apabila kita memperhatikan hubungan sosial yang dinamis selama bekerja dalam kelompok.
• Dinamika kelompok
• Layout Fisik
• Kognisi Terdistribusi